Beranda | Artikel | Newborn | Kenali Berbagai Penyebab Mata Bayi Kuning

Kenali Berbagai Penyebab Mata Bayi Kuning

Newborn
02/09/2026
Penulis: Amanda Dwi Azaria
Reviewer: Chief Editor
Kenali Berbagai Penyebab Mata Bayi Kuning

Mata bayi kuning umumnya disebabkan oleh meningkatnya kadar bilirubin dalam darah dan sering terjadi pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat berkaitan dengan hati yang belum matang, kurangnya asupan ASI, perbedaan golongan darah, hingga kondisi medis tertentu yang membutuhkan penanganan dokter.

Melihat bagian putih mata si Kecil berubah menjadi kekuningan tentu dapat membuat Moms khawatir. Kondisi ini terjadi ketika bilirubin, yaitu zat berwarna kuning yang terbentuk dari proses pemecahan sel darah merah, meningkat dan menumpuk di jaringan tubuh, termasuk pada bagian putih mata.

Mata bayi yang tampak kuning umumnya lebih mudah terlihat pada bagian putih mata dibandingkan bagian tubuh lainnya. Meski perubahan warna ini dapat terjadi sementara, Moms tetap perlu memperhatikan kondisi si Kecil karena warna kuning pada mata yang semakin jelas atau tidak kunjung membaik perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Apakah Normal Mata Bayi Kuning?

Mata bayi kuning cukup sering ditemukan, terutama selama beberapa hari pertama setelah si Kecil terlahir di dunia. Kondisi ini biasanya merupakan bagian dari penyakit kuning fisiologis karena hati bayi masih membutuhkan waktu untuk memproses bilirubin secara efektif.

Perubahan warna kekuningan pada bayi umumnya pertama kali terlihat di bagian putih mata atau kulit wajah, kemudian dapat tampak lebih jelas pada area tubuh lainnya. Pada mata, warna kuning muncul ketika bilirubin menumpuk pada jaringan, sehingga bagian putih mata si Kecil terlihat berbeda dari biasanya.

Meski hal ini terbilang normal, Moms tidak sebaiknya menentukan tingkat keparahan hanya berdasarkan warna kulit atau mata. Pemeriksaan kadar bilirubin diperlukan jika dokter menilai bayi memiliki risiko atau tanda penyakit kuning yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Mata Bayi Belekan dengan Aman

Tanda Fisiologis Mata Bayi Kuning

Mata bayi yang menguning dapat berkaitan dengan peningkatan bilirubin yang masih normal pada masa awal kehidupan. Beberapa tanda yang dapat diperhatikan Moms antara lain:

  • Muncul setelah 24 jam kelahiran:Warna kekuningan biasanya mulai terlihat pada hari kedua hingga ketiga setelah bayi lahir, bukan sejak beberapa jam setelah dilahirkan.

  • Bayi tetap terlihat sehat:Si Kecil umumnya tetap aktif, mau menyusu dengan baik, dan tidak menunjukkan perubahan kondisi yang mengkhawatirkan.

  • Berangsur membaik:Warna kuning pada bagian putih mata biasanya memudar secara bertahap seiring kemampuan hati bayi dalam memproses dan membuang bilirubin semakin matang.

  • Membaik dalam beberapa minggu:Pada bayi cukup bulan, kondisi ini umumnya membaik dalam sekitar dua minggu, meskipun durasinya dapat berbeda pada setiap bayi.

Meski begitu, Moms tetap perlu waspada jika warna kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, semakin pekat, atau tidak kunjung membaik. Terlebih jika si Kecil sulit menyusu, tampak sangat lemas, atau menunjukkan perubahan perilaku, sebaiknya segera diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Penyebab Mata Bayi Kuning

Ada berbagai kondisi yang dapat menyebabkan kadar bilirubin meningkat sehingga membuat mata bayi menjadi kuning. Berikut beberapa penyebab yang perlu Moms ketahui.

1. Kelahiran Prematur

Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut bayi prematur. Kondisi ini membuat organ tubuhnya, termasuk hati, belum berkembang seoptimal bayi yang lahir cukup bulan, sehingga proses pengolahan dan pembuangan bilirubin dapat berlangsung lebih lambat.

Selain itu, bayi prematur dapat mengalami kesulitan menyusu sehingga asupan ASI belum optimal. Kondisi tersebut dapat membuat bilirubin lebih sulit dikeluarkan dari tubuh dan meningkatkan risiko mata bayi tampak kuning.

2. Organ Hati Belum Sempurna

Setelah sel darah merah diuraikan, bilirubin perlu diproses oleh hati agar dapat dikeluarkan melalui urine dan feses. Pada bayi baru lahir, kemampuan hati dalam melakukan proses tersebut masih berkembang.

Akibatnya, bilirubin dapat menumpuk dalam darah dan menyebabkan kulit serta bagian putih mata terlihat kuning. Kondisi ini merupakan salah satu alasan penyakit kuning fisiologis cukup umum pada bayi baru lahir.

3. Kurang Asupan ASI

Kurangnya asupan ASI dapat membuat si Kecil lebih sedikit buang air besar dan mengurangi jumlah bilirubin yang dikeluarkan melalui feses. Kondisi ini dikenal sebagai suboptimal intake hyperbilirubinemia dan biasanya muncul pada awal masa menyusui.

Moms dapat membantu dengan menyusui si Kecil secara rutin, yaitu sekitar 8–12 kali dalam 24 jam pada masa awal setelah lahir, atau setiap kali Si Kecil menunjukkan tanda lapar seperti mulai membuka mulut, mencari puting, atau memasukkan tangan ke mulut.

4. Golongan Darah Bayi Berbeda dengan Ibu

Perbedaan golongan darah antara Moms dan si Kecil dapat menyebabkan isoimmune hemolytic disease. Kondisi ini terjadi ketika antibodi dari ibu menyerang sel darah merah bayi sehingga sel darah merah lebih cepat dihancurkan.

Penghancuran sel darah merah yang meningkat menghasilkan lebih banyak bilirubin. Contohnya dapat terjadi pada ketidakcocokan golongan darah ABO atau faktor Rh sehingga kadar bilirubin bayi dapat meningkat dengan cepat.

5. Bayi Mengalami Memar saat Persalinan

Memar atau cephalohematoma yang terjadi selama proses persalinan dapat menyebabkan darah terkumpul di bawah kulit kepala bayi. Ketika darah tersebut diuraikan oleh tubuh, bilirubin yang dihasilkan juga meningkat.

Karena itu, bayi dengan memar yang cukup luas atau cephalohematoma memiliki risiko lebih tinggi mengalami kadar bilirubin yang meningkat. Dokter biasanya akan memantau kondisi bayi dan kadar bilirubin sesuai kebutuhan.

6. Polisitemia

Polisitemia merupakan kondisi ketika jumlah sel darah merah dalam darah bayi lebih tinggi dari normal. Karena jumlah sel darah merah lebih banyak, proses penghancuran sel darah merah juga dapat menghasilkan bilirubin dalam jumlah lebih besar.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia sehingga bayi mungkin membutuhkan pemantauan lebih intens setelah lahir.

7. Saluran Empedu Tersumbat

Sumbatan atau gangguan pada saluran empedu dapat menghambat bilirubin yang sudah diproses hati untuk keluar melalui empedu. Salah satu kondisi serius yang perlu diwaspadai adalah biliary atresia atau atresia bilier.

Selain kulit dan mata kuning, kondisi ini dapat ditandai dengan urine berwarna gelap dan feses berwarna pucat seperti dempul. Jika tanda tersebut muncul, si Kecil perlu segera diperiksa karena penanganan dini sangat penting.

8. Infeksi Darah

Infeksi pada bayi yang baru lahir dapat mengganggu kondisi tubuh dan meningkatkan risiko hiperbilirubinemia. Infeksi juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat penyakit kuning perlu ditangani lebih serius.

Moms perlu memperhatikan gejala lain seperti bayi sulit menyusu, terlalu mengantuk, demam atau suhu tubuh rendah, dan bernapas tidak normal. Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan medis segera.

9. Sepsis

Sepsis merupakan respons tubuh yang berat terhadap infeksi dan dapat menyebabkan kondisi bayi memburuk dengan cepat. Pada bayi baru lahir, sepsis termasuk salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko komplikasi hiperbilirubinemia.

Jika mata bayi kuning disertai bayi sangat lemas, sulit dibangunkan, sulit menyusu, mengalami gangguan pernapasan, atau suhu tubuh tidak normal, segera bawa si Kecil untuk mendapatkan pertolongan medis.

10. Kelainan Genetik

Beberapa kelainan genetik dapat menyebabkan sel darah merah lebih mudah rusak atau mengganggu proses pengolahan bilirubin. Salah satu contohnya adalah defisiensi enzim G6PD yang dapat menyebabkan hemolisis pada kondisi atau paparan tertentu.

Kelainan bawaan lain juga dapat memengaruhi metabolisme bilirubin. Jika penyakit kuning berlangsung lama, muncul kembali, atau tidak membaik sesuai perkiraan, dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya.

Cara Mengatasi Mata Bayi Kuning

Penanganan mata bayi kuning bergantung pada kadar bilirubin, usia bayi dalam jam, usia kehamilan saat lahir, serta faktor risiko lainnya. Karena itu, Moms tidak sebaiknya memberikan pengobatan sendiri tanpa pemeriksaan dokter.

1. Memperbanyak Asupan ASI

Menyusui secara rutin, yakni sekitar 8-12 kali dalam 24 jam, membantu memenuhi kebutuhan cairan dan energi si Kecil serta meningkatkan frekuensi buang air besar. Bilirubin kemudian dapat lebih banyak dikeluarkan melalui feses.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian ASI sesuai kebutuhan bayi, setidaknya sekitar delapan kali dalam 24 jam pada masa awal kehidupan. Jika asupan tidak mencukupi, dokter dapat menentukan apakah diperlukan tambahan ASI perah, donor ASI, atau susu formula.

2. Fototerapi

Fototerapi menggunakan cahaya biru dengan panjang gelombang sekitar 460–490 nanometer (nm) untuk mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah larut dalam air sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh melalui urine dan feses. Selama terapi, sebanyak mungkin permukaan kulit bayi akan terkena cahaya sesuai prosedur medis.

Fototerapi diberikan ketika kadar bilirubin mencapai batas terapi berdasarkan usia bayi dalam jam, usia kehamilan, dan faktor risiko. Jadi, tidak semua bayi dengan mata atau kulit kuning membutuhkan fototerapi.

3. Infus IVIG

IVIG atau intravenous immunoglobulin merupakan pemberian imunoglobulin melalui pembuluh darah. Terapi ini dapat dipertimbangkan pada bayi dengan penyakit hemolitik akibat ketidakcocokan golongan darah ketika kadar bilirubin terus meningkat meskipun sudah mendapatkan fototerapi intensif.

IVIG bukan terapi rutin untuk semua bayi dengan penyakit kuning. Dokter akan mempertimbangkan manfaat dan risikonya berdasarkan kondisi serta hasil pemeriksaan si Kecil.

4. Transfusi Darah

Transfusi tukar darah atau exchange transfusion dilakukan dengan mengganti sebagian darah bayi secara bertahap menggunakan darah yang sesuai. Tindakan ini dapat menurunkan kadar bilirubin sekaligus mengurangi sel darah merah yang mengalami kerusakan.

Prosedur tersebut hanya dilakukan pada kondisi hiperbilirubinemia berat atau ketika terdapat tanda gangguan neurologis akibat kadar bilirubin yang sangat tinggi. Transfusi tukar merupakan tindakan medis khusus yang dilakukan di fasilitas kesehatan dengan pemantauan intensif.

Kapan Perlu Penanganan Medis?

Moms perlu segera meminta pertolongan medis jika warna kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir. Kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat berkaitan dengan peningkatan bilirubin yang lebih cepat atau penyebab tertentu.

Segera periksakan si Kecil jika kuning semakin pekat, tidak membaik, bayi sulit menyusu, sangat mengantuk, sulit dibangunkan, menangis dengan suara melengking, tubuh menjadi kaku atau lemas, atau mengalami gerakan tubuh yang tidak normal.

Moms juga perlu memperhatikan warna urine dan feses. Urine yang sangat gelap atau feses yang sangat pucat dapat menjadi tanda gangguan aliran empedu dan membutuhkan pemeriksaan segera.

Baca Juga: Moms, Kenali Tanda Bayi Dehidrasi dan Apa yang Harus Dilakukan?

Kesimpulan

Mata bayi kuning umumnya berkaitan dengan peningkatan kadar bilirubin dan sering terjadi karena hati bayi belum matang sepenuhnya. Kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh kelahiran prematur, kurangnya asupan ASI, perbedaan golongan darah, memar saat persalinan, hingga kondisi medis tertentu.

Penanganannya dapat berupa optimalisasi asupan ASI, fototerapi, IVIG, atau transfusi tukar sesuai penyebab dan tingkat bilirubin. Karena kadar bilirubin tidak dapat ditentukan hanya dari warna mata, Moms sebaiknya mengikuti pemeriksaan dan pemantauan yang dianjurkan dokter.

Moms juga dapat mendukung kenyamanan si Kecil selama masa pemantauan dengan memilih popok yang lembut dan mampu menjaga kulit tetap kering. MAKUKU Slim Luxury Silky dilengkapi SAP Thin Core Technology yang membuat popok tetap tipis hingga 1,6 mm, sementara serat Natural Fine Silk terasa lembut di kulit bayi. Daya serapnya yang tinggi juga membantu menjaga si Kecil tetap kering hingga 12 jam, serta telah teruji secara dermatologis untuk membantu mencegah ruam dan iritasi.

FAQ

1. Apakah mata bayi kuning selalu berarti penyakit kuning?

Tidak selalu menunjukkan kondisi yang berbahaya, Moms. Namun, warna kuning pada bagian putih mata bayi dapat menjadi tanda peningkatan bilirubin sehingga sebaiknya tetap diperhatikan, terutama jika muncul pada 24 jam pertama setelah lahir atau disertai gejala lain.

2. Berapa lama mata bayi kuning akan kembali normal?

Pada penyakit kuning fisiologis, warna kuning biasanya berangsur membaik ketika kemampuan hati mengolah bilirubin semakin matang. Jika warna kuning menetap, semakin pekat, atau muncul pada bayi yang tampak sakit, si Kecil perlu diperiksa dokter.

3. Apakah menjemur bayi dapat mengatasi mata bayi kuning?

Menjemur bayi bukan pengganti fototerapi medis. Jika kadar bilirubin membutuhkan terapi, dokter akan menentukan jenis fototerapi dan durasi yang sesuai berdasarkan kondisi si Kecil.


Bagikan di media sosial:
After article
Customer Care MAKUKU