Merawat Si Kecil menjadi perjalanan penting bagi setiap ibu, termasuk dalam merencanakan jarak kehamilan setelah melahirkan. Banyak ibu yang ingin fokus memberikan perhatian penuh pada bayi terlebih dahulu sehingga memilih menunda kehamilan. Selain menggunakan alat kontrasepsi, ada anggapan bahwa menyusui dapat menjadi KB alami.
Lalu, benarkah menyusui termasuk metode kontrasepsi alami? Jawabannya adalah ya, tetapi dengan syarat tertentu. Menyusui dapat membantu menunda kehamilan melalui metode yang dikenal sebagai Metode Amenore Laktasi (MAL).
Apakah Menyusui KB Alami?
Menyusui sebagai KB alami bukanlah mitos. Metode ini dikenal sebagai Metode Amenore Laktasi (MAL), yaitu metode kontrasepsi sementara yang memanfaatkan peningkatan hormon prolaktin saat ibu menyusui.
Hormon prolaktin berperan dalam produksi ASI sekaligus dapat menekan proses ovulasi atau pelepasan sel telur dari ovarium. Ketika ovulasi terhambat, peluang terjadinya kehamilan menjadi lebih rendah.
Pada sebagian ibu menyusui, kondisi ini juga menyebabkan menstruasi belum kembali selama beberapa bulan setelah melahirkan, bahkan ada yang mengalaminya hingga satu tahun. Namun, tidak mengalami menstruasi bukan berarti kehamilan tidak mungkin terjadi.
Ibu tetap dapat mengalami masa subur sekitar dua minggu sebelum menstruasi pertama muncul setelah melahirkan. Karena itu, metode ini tidak dapat digunakan sembarangan dan harus memenuhi syarat tertentu agar efektivitasnya tetap optimal.
Syarat Menyusui Sebagai KB Alami
Agar Metode Amenore Laktasi (MAL) bekerja secara efektif, terdapat tiga syarat utama yang harus dipenuhi:
1. Ibu Belum Mengalami Menstruasi Kembali
Metode MAL hanya dapat digunakan jika ibu belum mengalami menstruasi kembali setelah masa nifas selesai. Jika menstruasi sudah muncul, kemungkinan ovulasi juga sudah kembali terjadi.
2. Usia Bayi Masih 0–6 Bulan
MAL lebih efektif pada bayi berusia di bawah enam bulan. Setelah usia enam bulan, bayi mulai mendapatkan MPASI sehingga frekuensi menyusu biasanya menurun.
Penurunan frekuensi menyusui dapat memengaruhi kadar hormon prolaktin dan meningkatkan kemungkinan terjadinya ovulasi.
3. Bayi Menyusu Secara Rutin
Ibu perlu menyusui secara teratur tanpa jeda terlalu lama. Sebaiknya proses menyusui tidak ditunda lebih dari 4 jam pada siang hari dan tidak terlalu jarang pada malam hari.
Semakin sering bayi menyusu, semakin besar rangsangan produksi hormon prolaktin yang membantu menekan ovulasi.
Apa yang Terjadi Jika Salah Satu Syarat Tidak Terpenuhi?
Ketiga syarat dalam Metode Amenore Laktasi (MAL) harus terpenuhi secara bersamaan agar efektivitasnya tetap optimal. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka efektivitas metode ini dapat menurun dan risiko kehamilan dapat meningkat.
Sebagai contoh, kondisi tersebut dapat terjadi ketika menstruasi sudah kembali setelah melahirkan, bayi telah berusia lebih dari enam bulan, atau frekuensi menyusui mulai berkurang karena bayi sudah mengonsumsi MPASI maupun tambahan susu formula. Berkurangnya intensitas menyusui dapat menurunkan kadar hormon prolaktin yang berperan dalam menekan ovulasi.
Pada kondisi seperti ini, ibu dapat mempertimbangkan penggunaan metode kontrasepsi lain yang relatif aman digunakan selama masa menyusui, seperti kondom, IUD, KB suntik 3 bulan, atau pil KB khusus ibu menyusui. Sebelum memilih metode kontrasepsi, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis agar pilihan yang digunakan sesuai dengan kondisi ibu dan tidak mengganggu proses menyusui.
Kesimpulan
Menyusui memang dapat menjadi KB alami melalui Metode Amenore Laktasi (MAL). Namun efektivitasnya hanya berlaku apabila ibu belum mengalami menstruasi, bayi masih berusia 0–6 bulan, dan proses menyusui dilakukan secara rutin tanpa jeda panjang.
Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, ibu tetap memiliki kemungkinan untuk hamil sehingga perlu mempertimbangkan metode kontrasepsi tambahan sesuai anjuran tenaga medis.