Sklera ikterik pada bayi merupakan kondisi ketika bagian putih mata terlihat kekuningan akibat penumpukan bilirubin. Kondisi ini cukup umum pada bayi baru lahir dan disebabkan oleh prematuritas, kurangnya asupan ASI, ketidakcocokan golongan darah, infeksi, atau gangguan hati dan saluran empedu.
Moms mungkin pernah melihat bagian putih mata si Kecil tampak kekuningan, terutama pada beberapa hari setelah lahir. Kondisi yang disebut sklera ikterik ini terjadi ketika bilirubin menumpuk dalam darah dan dapat menjadi salah satu tanda penyakit kuning pada bayi.
Meski cukup sering terjadi pada bayi baru lahir, sklera ikterik tidak selalu menunjukkan kondisi yang berbahaya. Waktu kemunculannya, perubahan warna yang semakin pekat, serta kondisi si Kecil secara keseluruhan perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah kondisi tersebut masih dalam batas yang umum atau membutuhkan pemeriksaan medis.
Baca Juga: Kenali Berbagai Penyebab Mata Bayi Kuning
Apa Itu Sklera Ikterik pada Bayi?
Sklera ikterik adalah kondisi ketika bagian putih mata bayi terlihat berwarna kuning. Perubahan warna ini terjadi karena adanya penumpukan bilirubin, yaitu zat berwarna kuning yang terbentuk ketika sel darah merah di dalam tubuh diuraikan.
Pada bayi baru lahir, sklera ikterik umumnya merupakan salah satu tanda jaundice atau penyakit kuning. Warna kuning juga dapat terlihat pada kulit, terutama ketika kadar bilirubin dalam darah meningkat.
Kondisi ini cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir. Namun, sklera ikterik tidak selalu berarti kondisi yang berbahaya. Moms perlu memperhatikan kapan warna kuning muncul, seberapa luas penyebarannya, serta kondisi bayi secara keseluruhan.
Apakah Sklera Ikterik pada Bayi Normal?
Sklera ikterik dapat menjadi bagian dari kondisi normal pada bayi baru lahir, tetapi pada keadaan tertentu dapat menandakan masalah kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
1. Sklera Ikterik Fisiologis yang Umum Terjadi
Sklera ikterik fisiologis biasanya muncul setelah bayi berusia sekitar 24 jam. Kondisi ini terjadi karena hati bayi masih beradaptasi untuk mengolah dan membuang bilirubin dari tubuh.
Umumnya, warna kuning mulai terlihat pada wajah dan bagian putih mata, kemudian dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Pada banyak bayi, kondisi ini membaik secara bertahap dalam beberapa hari hingga sekitar dua minggu.
Selama bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, dan tidak menunjukkan tanda bahaya, dokter dapat melakukan pemantauan untuk memastikan kadar bilirubin tetap dalam batas yang aman.
2. Sklera Ikterik Patologis yang Memerlukan Pemeriksaan Medis
Sklera ikterik perlu diwaspadai jika muncul terlalu dini, terutama dalam 24 jam pertama setelah kelahiran, atau jika warna kuning semakin pekat dan disertai perubahan kondisi bayi.
Penyebabnya dapat berupa ketidakcocokan golongan darah, infeksi, gangguan hati atau saluran empedu, serta kondisi lain yang menyebabkan kadar bilirubin meningkat. Pemeriksaan kadar bilirubin diperlukan untuk menentukan apakah bayi membutuhkan penanganan khusus.
Penyebab Sklera Ikterik pada Bayi
Sklera ikterik pada bayi dapat terjadi karena berbagai faktor yang menyebabkan kadar bilirubin meningkat dalam darah. Beberapa penyebab berkaitan dengan proses alami tubuh bayi setelah lahir, sementara lainnya dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tertentu.
1. Fungsi Hati Bayi Belum Berkembang Sempurna
Hati berperan dalam memproses bilirubin agar dapat dikeluarkan dari tubuh. Pada bayi baru lahir, fungsi hati masih berkembang sehingga proses pengolahan bilirubin belum seefisien orang dewasa.
Akibatnya, bilirubin dapat lebih mudah menumpuk dalam darah dan menyebabkan kulit serta sklera terlihat kekuningan.
2. Pemecahan Sel Darah Merah Berlangsung Lebih Cepat
Bayi baru lahir memiliki jumlah sel darah merah yang relatif tinggi dan sel tersebut memiliki masa hidup yang lebih pendek. Ketika sel darah merah dipecah, tubuh menghasilkan bilirubin.
Jika bilirubin diproduksi lebih cepat daripada kemampuan hati untuk memprosesnya, kadarnya dapat meningkat dan menyebabkan penyakit kuning.
3. Bayi Belum Memperoleh Cukup ASI
Bayi yang belum mendapatkan ASI dalam jumlah cukup dapat lebih jarang buang air kecil dan besar. Padahal, bilirubin yang telah diproses tubuh perlu dikeluarkan melalui urine dan feses.
Karena itu, kecukupan ASI penting untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan dan energi bayi sekaligus mendukung proses pengeluaran bilirubin.
4. Kandungan ASI Memengaruhi Proses Pengolahan Bilirubin
Pada sebagian bayi yang sehat dan menyusu dengan baik, penyakit kuning dapat bertahan lebih lama akibat faktor yang berkaitan dengan ASI. Kondisi ini dikenal sebagai breast milk jaundice.
Biasanya, bayi tetap tampak sehat dan pertambahan berat badannya baik. Namun, dokter tetap perlu memastikan tidak ada penyebab lain yang mendasari warna kuning tersebut.
5. Perbedaan Golongan Darah Ibu dan Bayi
Ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan bayi, termasuk ketidakcocokan rhesus, dapat menyebabkan antibodi dari ibu menghancurkan sel darah merah bayi lebih cepat.
Akibatnya, produksi bilirubin meningkat dan bayi dapat mengalami penyakit kuning yang lebih berat.
6. Bayi Lahir Prematur
Bayi prematur lebih berisiko mengalami penyakit kuning karena organ hati mereka masih belum matang. Kemampuan hati untuk memproses bilirubin pun belum seoptimal bayi yang lahir cukup bulan.
Karena itu, kadar bilirubin pada bayi prematur biasanya dipantau lebih ketat.
7. Infeksi pada Bayi
Infeksi tertentu dapat memengaruhi kondisi bayi dan berkaitan dengan peningkatan kadar bilirubin. Jika sklera ikterik disertai demam, bayi tampak sangat lemas, sulit menyusu, atau menunjukkan perubahan perilaku, bayi perlu segera diperiksa.
8. Kelainan Hati atau Saluran Empedu
Gangguan pada hati atau saluran empedu dapat membuat bilirubin sulit dikeluarkan dari tubuh. Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah urine berwarna gelap dan feses berwarna pucat.
Kondisi seperti ini membutuhkan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
9. Kelainan Sel Darah Merah
Beberapa kelainan pada sel darah merah dapat menyebabkan sel darah merah lebih mudah mengalami pemecahan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan produksi bilirubin dan menyebabkan penyakit kuning pada bayi.
Gejala yang Menyertai Sklera Ikterik pada Bayi
Selain perubahan warna pada bagian putih mata, sklera ikterik pada bayi dapat disertai beberapa tanda lain yang perlu diperhatikan. Mengenali perubahan pada warna kulit, pola menyusu, hingga urine dan feses dapat membantu Moms mengetahui kapan kondisi si Kecil perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
1. Kulit Bayi Terlihat Kekuningan
Selain bagian putih mata, kulit bayi juga dapat terlihat kuning. Warna ini biasanya pertama kali terlihat pada wajah, kemudian dapat menyebar ke dada, perut, lengan, hingga kaki ketika kadar bilirubin semakin meningkat.
2. Warna Kuning Menyebar dari Wajah ke Tubuh
Penyebaran warna kuning ke bagian tubuh yang lebih bawah perlu diperhatikan, terutama jika terjadi dengan cepat atau warna kuning menjadi semakin pekat.
Moms sebaiknya tidak hanya mengandalkan pengamatan warna kulit untuk memperkirakan kadar bilirubin karena pemeriksaan bilirubin diperlukan untuk mengetahui kadarnya secara akurat.
3. Bayi Tampak Mengantuk dan Sulit Dibangunkan
Bayi dengan kadar bilirubin yang tinggi dapat menjadi lebih mengantuk atau sulit dibangunkan untuk menyusu. Kondisi ini perlu segera mendapat perhatian medis, terutama jika berbeda dari perilaku bayi biasanya.
4. Bayi Tidak Mau Menyusu atau Menyusu Lebih Sedikit
Bayi yang menyusu lebih sedikit dapat berisiko mengalami kekurangan asupan. Selain itu, kesulitan menyusu juga dapat menjadi tanda bahwa bayi sedang mengalami kondisi yang perlu diperiksa.
5. Urine Berwarna Kuning Gelap
Urine bayi baru lahir umumnya berwarna relatif pucat. Urine yang tampak sangat gelap, terutama jika disertai kulit dan mata kuning, perlu diperiksakan karena dapat berkaitan dengan gangguan pengolahan bilirubin.
6. Feses Berwarna Pucat
Feses yang berwarna sangat pucat, abu-abu, atau seperti dempul perlu mendapat perhatian khusus. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan aliran empedu dan sebaiknya segera diperiksa oleh dokter.
Cara Mengatasi Sklera Ikterik pada Bayi
Penanganan sklera ikterik pada bayi bergantung pada kadar bilirubin, usia, kondisi kesehatan, serta penyebab yang mendasarinya. Pada kondisi tertentu, bayi cukup mendapatkan asupan yang memadai dan pemantauan, sedangkan kadar bilirubin yang tinggi dapat memerlukan penanganan medis seperti fototerapi.
1. Memastikan Bayi Memperoleh ASI yang Cukup
Moms dapat menyusui bayi secara rutin sesuai kebutuhan dan memastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup. Jika bayi mengalami kesulitan menyusu, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi untuk mendapatkan bantuan.
2. Memantau Kadar Bilirubin secara Berkala
Dokter dapat memeriksa kadar bilirubin melalui tes darah atau alat pengukur bilirubin. Hasil pemeriksaan kemudian dinilai berdasarkan usia bayi, usia kehamilan saat lahir, kondisi kesehatan, serta faktor risiko seperti prematur atau ketidakcocokan golongan darah. Dari penilaian tersebut, dokter dapat menentukan apakah bayi cukup dipantau atau membutuhkan penanganan untuk menurunkan kadar bilirubin.
3. Menjalani Fototerapi
Jika kadar bilirubin cukup tinggi, dokter dapat merekomendasikan fototerapi. Dalam prosedur ini, bayi ditempatkan di bawah cahaya khusus yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh.
4. Mendapatkan Transfusi Tukar pada Kondisi Berat
Pada kondisi tertentu ketika kadar bilirubin sangat tinggi atau tidak cukup turun dengan penanganan lain, dokter dapat mempertimbangkan transfusi tukar.
Prosedur ini dilakukan di fasilitas kesehatan dengan pemantauan ketat dan hanya diberikan berdasarkan indikasi medis.
5. Mengatasi Penyakit yang Menjadi Penyebabnya
Jika sklera ikterik disebabkan oleh infeksi, ketidakcocokan golongan darah, gangguan hati, atau kondisi lainnya, dokter akan menentukan penanganan berdasarkan penyebab tersebut.
Kapan Bayi dengan Sklera Ikterik Harus Segera Dibawa ke Dokter?
Tidak semua bayi dengan sklera ikterik membutuhkan penanganan darurat. Namun, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan jika warna kuning muncul sebelum bayi berusia 24 jam, semakin cepat memburuk, atau bayi menunjukkan perubahan kondisi yang mengkhawatirkan.
Selain itu, bayi perlu segera diperiksa jika sklera ikterik tidak membaik sesuai pemantauan dokter atau muncul tanda yang mengarah pada kondisi lebih serius, seperti:
Bayi semakin sulit dibangunkan atau tampak sangat lemas
Bayi tidak mau menyusu atau mengalami kesulitan menyusu
Bayi mengalami kejang, tubuh terkulai, atau menangis dengan nada yang tidak biasa;
Urine berwarna sangat gelap atau feses tampak pucat, abu-abu, atau seperti dempul.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kadar bilirubin dan memastikan tidak ada kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Kadar bilirubin yang sangat tinggi dan tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius pada sistem saraf.
Baca Juga: Mengenal Newborn: Kenali Usia, Ciri, dan Perawatannya
Jaga Kulit si Kecil Tetap Nyaman dengan MAKUKU Slim Luxury Silky
Sklera ikterik pada bayi ditandai dengan menguningnya bagian putih mata akibat peningkatan kadar bilirubin dan dapat berkaitan dengan kondisi yang normal maupun masalah kesehatan tertentu. Karena itu, Moms perlu memperhatikan waktu munculnya warna kuning, perubahan kondisi si Kecil, serta melakukan pemeriksaan medis bila terdapat tanda yang mengkhawatirkan.
Selain memantau kondisi kesehatan si Kecil, kenyamanannya juga tetap perlu diperhatikan, termasuk saat menggunakan popok.MAKUKU Slim Luxury Silky hadir dengan SAP Thin Core Technology yang membuatnya tipis 1,6 mm, mengunci cairan secara merata, serta Natural Fine Silk yang lembut di kulit, dengan daya serap tinggi hingga 12 jam untuk membantu si Kecil tetap kering dan nyaman.
FAQ
1. Apakah sklera ikterik pada bayi selalu berbahaya?
Tidak selalu. Sklera ikterik dapat terjadi sebagai bagian dari penyakit kuning fisiologis yang umum pada bayi baru lahir. Namun, pemeriksaan diperlukan jika warna kuning muncul sangat dini, semakin pekat, atau disertai gejala lain.
2. Apakah bayi dengan sklera ikterik tetap boleh menyusu?
Ya. Pada umumnya, bayi tetap perlu mendapatkan ASI yang cukup dan rutin. Jika bayi sulit menyusu atau asupannya berkurang, Moms perlu berkonsultasi dengan dokter.
3. Apakah menjemur bayi dapat menghilangkan sklera ikterik?
Menjemur bayi di bawah sinar matahari bukan pengganti fototerapi medis. Jika kadar bilirubin membutuhkan penanganan, dokter akan menentukan terapi yang sesuai berdasarkan kondisi bayi.