Bayi muntah setelah minum ASI dapat disebabkan oleh kondisi ringan seperti terlalu kenyang, minum terlalu cepat, banyak menelan udara, atau gumoh. Muntah yang menyemprot, berwarna hijau, disertai darah, atau tanda dehidrasi perlu segera diperiksakan ke dokter.
Melihat bayi muntah setelah minum ASI tentu dapat membuat Moms khawatir, terutama jika terjadi berulang. Namun, tidak semua cairan yang keluar dari mulut si Kecil merupakan muntah karena sebagian dapat berupa gumoh atau spit-up yang normal.
Muntah biasanya keluar dengan dorongan yang lebih kuat dan membuat bayi terlihat tidak nyaman. Sementara itu, gumoh umumnya mengalir keluar tanpa kontraksi kuat dan bayi tetap terlihat nyaman setelahnya.
Baca Juga: 7 Cara Ampuh Mengatasi ASI Tersumbat, Moms Harus Tahu!
Penyebab Umum Bayi Muntah Setelah Minum ASI
Bayi yang muntah setelah menyusu dapat terjadi karena berbagai hal, mulai dari terlalu banyak minum hingga posisi bayi setelah menyusu. Berikut beberapa penyebab bayi muntah setelah minum ASI yang umum terjadi dan perlu Moms ketahui:
1. Terlalu Kenyang ASI
Lambung bayi masih berukuran kecil sehingga pemberian ASI dalam jumlah terlalu banyak dalam satu waktu dapat membuat lambung terlalu penuh. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sebagian ASI kembali keluar sebagai muntah.
2. Bayi Minum ASI Terlalu Cepat
Aliran ASI yang deras dapat membuat si Kecil menelan susu lebih cepat daripada kemampuan lambungnya menerima. Si Kecil juga dapat lebih banyak menelan udara sehingga perut terasa penuh dan memicu keluarnya ASI.
3. Bayi Minum ASI Sambil Menangis
Ketika menangis, si Kecil dapat menelan lebih banyak udara saat berusaha menyusu. Udara yang masuk ke lambung dapat membuat perut terasa penuh dan meningkatkan kemungkinan si Kecil muntah setelah menyusu.
4. Banyak Menelan Udara karena Pelekatan Kurang Tepat
Pelekatan yang kurang tepat dapat membuat si Kecil lebih banyak memasukkan udara ketika menyusu. Pastikan mulut si Kecil terbuka lebar dan memasukkan sebagian besar areola ke dalam mulut, dengan bibir terbuka keluar, dagu menyentuh payudara, serta hidung tetap bebas.
5. Gumoh
Gumoh adalah keluarnya sedikit ASI dari mulut bayi tanpa dorongan yang kuat. Kondisi ini sering terjadi karena katup antara kerongkongan dan lambung bayi masih berkembang sehingga ASI lebih mudah naik kembali.
6. Gastroesophageal Reflux
Gastroesophageal reflux (GER) terjadi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Pada bayi, kondisi ini dapat terjadi karena otot di bagian bawah kerongkongan belum matang sepenuhnya dan biasanya mulai membaik setelah usia 6 bulan serta semakin berkurang pada usia 12–18 bulan.
7. Bermain Terlalu Aktif Setelah Menyusu
Mengajak si Kecil bermain aktif, menggoyangkan tubuh, atau memantul-mantulkannya segera setelah menyusu dapat memicu keluarnya ASI. Berikan waktu tenang sekitar 20–30 menit setelah menyusu dengan menggendongnya dalam posisi tegak agar isi lambung tidak mudah naik kembali.
8. Bayi Langsung Berbaring Setelah Menyusu
Berbaring segera setelah menyusu dapat membuat ASI lebih mudah kembali ke kerongkongan dan memicu muntah. Moms dapat menggendong si Kecil dalam posisi tegak selama sekitar 20–30 menit setelah menyusu dan menyendawakannya jika diperlukan sebelum membaringkannya kembali.
Penyebab Bayi Muntah Setelah Minum ASI yang Perlu Diwaspadai
Si Kecil yang terus menerus muntah setelah minum ASI dan disertai gejala lain dapat menunjukkan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis. Beberapa penyebabnya termasuk alergi, infeksi, GERD, hingga gangguan pada saluran pencernaan.
1. Alergi
Bayi yang menyusu ASI tetap dapat mengalami alergi protein susu sapi karena protein dari makanan yang dikonsumsi Moms dapat masuk ke dalam ASI dalam jumlah kecil dan memicu reaksi pada bayi yang sensitif. Gejalanya dapat berupa muntah, ruam atau eksim, diare, sembelit, kolik, hingga darah pada tinja.
2. Intoleransi Laktosa
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam ASI dan susu. Kondisi ini dapat menyebabkan diare, sakit perut, perut berbunyi, banyak gas, dan muntah, tetapi intoleransi laktosa pada bayi, termasuk bayi yang menyusu ASI, tergolong jarang.
3. Infeksi Saluran Cerna
Infeksi saluran cerna dapat menyebabkan muntah karena sistem pencernaan si Kecil mengalami peradangan. Muntah dapat disertai diare, demam, berkurangnya aktivitas, dan tanda dehidrasi sehingga Moms perlu memantau kondisi si Kecil dengan cermat.
4. GERD
GERD merupakan kondisi ketika refluks menimbulkan gejala atau komplikasi yang lebih bermasalah dibandingkan refluks bayi biasa. Si Kecil dapat sering muntah, sulit menyusu, menolak menyusu, tampak kesakitan, atau mengalami kenaikan berat badan yang tidak optimal.
5. Stenosis Pilorus
Stenosis pilorus terjadi ketika otot pada saluran keluar lambung menebal sehingga makanan sulit masuk ke usus. Tanda khasnya adalah muntah yang menyemprot dengan kuat setelah menyusu, sering disertai bayi kembali lapar dan tanda dehidrasi. Kondisi ini biasanya mulai menunjukkan gejala ketika bayi berusia sekitar 3–6 minggu dan membutuhkan pemeriksaan serta penanganan medis.
6. Hirschsprung
Hirschsprung adalah kelainan bawaan ketika sebagian usus besar tidak memiliki sel saraf yang diperlukan untuk menggerakkan feses. Pada bayi yang baru lahir, tanda yang dapat muncul antara lain tidak buang air besar dalam 48 jam pertama, perut membengkak, sulit menyusu, atau muntah berwarna hijau atau cokelat.
7. Kondisi Medis Lainnya
Muntah berulang juga dapat berkaitan dengan gangguan lain pada saluran pencernaan atau kondisi infeksi tertentu. Segera cari pertolongan medis jika muntah berwarna hijau atau kuning, mengandung darah, bayi sulit bernapas, menolak menyusu, sangat lemas, atau memiliki tanda dehidrasi.
Cara Mencegah Bayi Muntah Setelah Minum ASI
Beberapa kebiasaan saat menyusui dapat membantu mengurangi risiko si Kecil muntah atau gumoh setelah minum ASI. Moms dapat mencoba beberapa cara berikut:
Susui saat bayi mulai lapar. Jangan menunggu sampai bayi menangis kencang agar ia dapat menyusu dengan lebih tenang.
Perhatikan posisi menyusui. Pastikan kepala dan tubuh bayi berada dalam posisi yang nyaman dengan kepala sedikit lebih tinggi daripada perut.
Pastikan perlekatan yang tepat. Pastikan mulut bayi terbuka lebar dan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut untuk membantu mengurangi udara yang tertelan.
Berikan ASI sedikit tetapi lebih sering. Cara ini dapat membantu mencegah lambung bayi terlalu penuh dalam satu sesi menyusu.
Sendawakan setelah menyusu. Bantu si Kecil bersendawa, terutama jika ia tampak menelan banyak udara selama menyusu.
Hindari aktivitas setelah menyusu. Tunda tummy time, bermain aktif, atau menggoyangkan tubuh si Kecil agar ASI tidak mudah naik kembali.
Gunakan pakaian dan popok yang nyaman. Hindari pakaian atau popok yang terlalu ketat karena dapat memberikan tekanan pada perut si Kecil.
Perhatikan kemungkinan alergi makanan. Jika muntah berulang disertai ruam, eksim, diare, atau darah pada tinja, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui kemungkinan alergi makanan.
Dengan menerapkan kebiasaan menyusui yang tepat, risiko bayi muntah atau gumoh setelah minum ASI dapat membantu dikurangi. Namun, jika muntah terjadi terus-menerus, jumlahnya banyak, atau disertai tanda bahaya lainnya, segera konsultasikan dengan dokter.
Baca Juga: Moms, Ini Cara Agar ASI Kental untuk Si Kecil
Kesimpulan
Bayi muntah setelah minum ASI tidak selalu menandakan masalah kesehatan karena gumoh dan refluks ringan cukup umum terjadi pada bayi. Terlalu kenyang, menyusu terlalu cepat, banyak menelan udara, atau langsung aktif setelah menyusu juga dapat menjadi pemicunya.
Moms dapat membantu mengurangi keluhan dengan memperbaiki perlekatan, menyusui sesuai tanda lapar, menyendawakan si Kecil, menjaga posisi tetap nyaman setelah menyusu, serta menghindari aktivitas aktif setelah menyusui. Namun, muntah menyemprot, muntah hijau atau berdarah, sulit menyusu, perut membengkak, sangat lemas, atau tanda dehidrasi membutuhkan pemeriksaan segera.
Selain memperhatikan kondisi pencernaan, kenyamanan si Kecil sehari-hari juga tidak kalah penting. Untuk mendukung aktivitas bayi dengan popok yang tipis dan lembut, Moms dapat memilih MAKUKU Slim Luxury Silky yang menggunakan SAP Thin Core Technology dan Natural Fine Silk, setipis 1,6 mm serta perlindungan hingga 12 jam.
FAQ
1. Apakah bayi muntah setelah minum ASI selalu berbahaya?
Tidak selalu, Moms. Jika yang keluar hanya sedikit, tidak menyemprot, si Kecil tetap aktif, mau menyusu, dan berat badannya berkembang baik, kondisi tersebut dapat berupa gumoh atau refluks normal.
2. Apa perbedaan gumoh dan muntah pada bayi?
Gumoh biasanya keluar tanpa dorongan kuat dan bayi tetap terlihat nyaman. Muntah biasanya keluar dengan kontraksi atau dorongan yang lebih kuat dan dapat membuat si Kecil tampak tidak nyaman.
3. Apakah bayi yang gumoh boleh langsung tidur?
Boleh, tetapi posisi tidur tetap harus telentang di permukaan yang rata dan keras. Jangan memiringkan atau menengkurapkan bayi untuk mencegah gumoh karena posisi tersebut justru meningkatkan risiko kematian mendadak pada bayi.