Picky eater adalah kebiasaan anak yang hanya mau mengonsumsi makanan tertentu atau menolak makanan baru berdasarkan rasa, tekstur, warna, dan aroma. Kondisi ini cukup umum terjadi pada masa pertumbuhan, tetapi perlu diperhatikan apabila pilihan makanan sangat terbatas, mengganggu asupan gizi, atau memengaruhi pertumbuhan si Kecil.
Si Kecil hanya mau makan makanan tertentu atau langsung menolak makanan baru? Kondisi seperti ini sering membuat Moms khawatir, terutama ketika anak tampak sulit mendapatkan makanan yang beragam.
Kebiasaan tersebut sering disebut sebagai picky eater. Meski cukup umum terjadi pada anak-anak, Moms tetap perlu memahami penyebab dan cara mengatasinya agar kebutuhan nutrisi si Kecil tetap terpenuhi.
Apa Itu Picky Eater?
Picky eater adalah kebiasaan memilih makanan secara berlebihan atau menolak makanan tertentu. Anak dapat memiliki daftar makanan yang sangat terbatas dan enggan mencoba makanan baru.
Kebiasaan ini cukup umum terjadi pada si Kecil, terutama pada masa ketika mereka mulai mengembangkan kemandirian dan preferensi terhadap makanan. Sebagian anak juga lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, aroma, atau tampilan makanan.
Dalam banyak kasus, fase picky eater dapat bersifat sementara dan tidak selalu menyebabkan masalah kesehatan. Namun, kondisi ini perlu diperhatikan apabila pilihan makanan si Kecil sangat terbatas atau mulai memengaruhi pertumbuhan dan kesehatannya.
Baca Juga: Daftar Vitamin yang Penting untuk Menambah Berat Badan Bayi 6-12 Bulan
Ciri-Ciri Anak Picky Eater
Setiap anak dapat menunjukkan perilaku makan yang berbeda. Namun, beberapa kebiasaan berikut dapat menjadi ciri anak yang mengalami picky eating.
1. Hanya Mau Mengonsumsi Makanan Tertentu
Anak picky eater biasanya memiliki makanan favorit yang ingin dikonsumsi berulang kali. Si Kecil mungkin menolak makanan lain meskipun makanan tersebut pernah disukai sebelumnya.
Pilihan makanan yang terbatas dapat membuat Moms kesulitan menyediakan menu yang beragam. Namun, hindari langsung memaksa si Kecil karena hal tersebut dapat menciptakan pengalaman makan yang negatif.
2. Menolak atau Enggan Mencoba Makanan Baru
Si Kecil dapat menunjukkan rasa takut atau enggan mencoba makanan yang belum dikenalnya. Kondisi ini sering disebut sebagai food neophobia, yaitu kecenderungan untuk menolak makanan baru.
Anak mungkin membutuhkan waktu untuk mengenal makanan baru. Moms dapat menawarkan makanan tersebut secara berulang tanpa memberikan tekanan untuk langsung memakannya.
3. Menolak Makanan Berdasarkan Rasa, Tekstur, Bentuk, Warna, atau Aroma
Beberapa anak memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap karakteristik makanan. Misalnya, si Kecil mungkin menyukai makanan yang renyah tetapi menolak makanan yang lembek atau berlendir.
Anak juga dapat menolak makanan berdasarkan aroma atau warna tertentu. Memahami preferensi ini dapat membantu Moms memperkenalkan variasi makanan dengan cara yang lebih sesuai.
4. Menutup Mulut, Mendorong Piring, atau Meninggalkan Meja Makan
Penolakan makanan dapat ditunjukkan melalui bahasa tubuh. Si Kecil mungkin menutup mulut, memalingkan wajah, mendorong piring, atau meminta turun dari tempat makan.
Perilaku tersebut dapat menunjukkan bahwa anak tidak tertarik. Moms sebaiknya tidak memaksa anak membuka mulut karena dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.
5. Memuntahkan Makanan yang Sudah Masuk ke Mulut
Sebagian anak dapat mengeluarkan kembali makanan yang sudah masuk ke dalam mulut karena tidak menyukai rasa, tekstur, aroma, atau suhu makanan tertentu. Perilaku ini dapat menjadi salah satu ciri picky eater.
Si Kecil mungkin langsung mengeluarkan makanan setelah mencicipinya atau menolak mengunyah dan menelannya. Biasanya, perilaku ini muncul pada jenis makanan tertentu, sementara Si Kecil masih mau makan makanan lain yang sesuai dengan preferensinya.
6. Makan dalam Porsi Lebih Sedikit dari Biasanya
Anak picky eater dapat makan dalam porsi lebih sedikit karena hanya mau mengonsumsi makanan tertentu. Ketika makanan yang disajikan tidak sesuai dengan seleranya, Si Kecil mungkin hanya makan beberapa suap atau bahkan menolak makanan tersebut.
Kondisi ini dapat membuat jumlah makanan yang dikonsumsi Si Kecil tampak lebih sedikit dibandingkan biasanya. Terutama jika dalam satu waktu makan hanya tersedia makanan yang tidak disukainya.
7. Membuat Alasan untuk Menghindari Waktu Makan
Si Kecil mungkin mengatakan sudah kenyang sebelum makan atau meminta bermain saat waktu makan tiba. Pada beberapa anak, perilaku ini dapat menjadi cara untuk menghindari makanan yang tidak disukai.
Si Kecil juga dapat memperpanjang waktu makan dengan banyak alasan, seperti ingin minum, pergi ke toilet, atau meminta makanan lain. Jika perilaku ini sering muncul setiap kali disajikan makanan tertentu, hal tersebut dapat menjadi salah satu ciri picky eater.
Jenis-Jenis Picky Eater pada Anak
Istilah berikut dapat membantu Moms memahami pola penolakan makanan yang berbeda pada setiap anak. Namun, kategori ini bukan merupakan diagnosis medis resmi.
1. Regresor atau Mendadak Menjadi Pemilih Makanan
Anak yang sebelumnya mau mengonsumsi berbagai makanan dapat tiba-tiba menjadi lebih pemilih. Perubahan ini dapat terjadi karena perubahan tahap perkembangan atau pengalaman tertentu saat makan.
Moms dapat tetap menawarkan makanan yang sebelumnya disukai tanpa memaksa si Kecil. Perhatikan juga apakah perubahan kebiasaan makan terjadi bersamaan dengan keluhan kesehatan.
2. Pembenci Rasa
Sebagian anak sangat sensitif terhadap rasa tertentu, seperti pahit atau asam. Kondisi tersebut dapat membuat si Kecil menolak sayuran atau makanan dengan cita rasa yang kuat.
Moms dapat memperkenalkan rasa secara bertahap. Cobalah menawarkan bahan makanan dengan cara pengolahan berbeda agar si Kecil memiliki kesempatan untuk beradaptasi.
3. Penyuka Minuman
Beberapa anak lebih sering mengonsumsi susu atau minuman lain daripada makanan padat. Minuman yang terlalu banyak dapat membuat perut si Kecil terasa kenyang sebelum waktu makan.
Moms perlu memperhatikan jenis dan jumlah minuman yang dikonsumsi anak. Kebutuhan minum susu dan makanan setiap anak dapat berbeda berdasarkan usia serta kondisi kesehatannya.
4. Pemilih Tekstur
Anak dapat menolak makanan yang terlalu keras, lembek, berpasir, atau memiliki tekstur tertentu. Preferensi ini dapat berkaitan dengan sensitivitas terhadap sensasi di dalam mulut.
Moms dapat mengenalkan tekstur baru secara bertahap sesuai kemampuan makan si Kecil. Jika anak terus mengalami kesulitan mengunyah atau menelan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
5. Pemuntah Makanan
Sebagian anak dapat mengeluarkan makanan dari mulut setelah mencoba rasa atau tekstur yang tidak disukai. Hal ini berbeda dengan muntah karena makanan keluar tanpa disengaja dari lambung.
Namun, jika si Kecil sering mengalami muntah setelah makan, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai perilaku picky eater. Pemeriksaan medis mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
6. Pemilih Bentuk Penyajian
Tampilan makanan dapat memengaruhi ketertarikan anak untuk mencobanya. Si Kecil mungkin mau makan wortel berbentuk stik tetapi menolak wortel yang dicampurkan ke dalam menu lain.
Moms dapat mencoba menyajikan bahan makanan dalam bentuk yang berbeda. Namun, variasi penyajian sebaiknya tetap memperhatikan keamanan dan kemampuan makan si Kecil.
7. Pemilih Warna Makanan
Sebagian anak memiliki preferensi terhadap warna tertentu dan menolak makanan dengan warna yang dianggap tidak menarik. Hal ini dapat membuat pilihan makanan menjadi semakin terbatas.
Moms dapat mengenalkan makanan berwarna berbeda secara perlahan. Hindari menambahkan pewarna hanya untuk membuat makanan tampak lebih menarik.
Cara Mengatasi Anak Picky Eater
Mengatasi picky eater membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tujuannya bukan memaksa si Kecil langsung menyukai semua makanan, melainkan membantunya secara bertahap menerima pilihan yang lebih beragam.
1. Susun Jadwal Makan dan Camilan secara Teratur
Moms dapat membuat jadwal makan utama dan camilan sesuai kebutuhan serta rutinitas Si Kecil. Misalnya, sarapan pukul 07.00, camilan pukul 09.30, makan siang pukul 12.00, camilan sore pukul 15.00, dan makan malam pukul 18.00.
Rutinitas ini membantu anak mengenali waktu makan dan memberikan kesempatan untuk merasa lapar sebelum waktu makan berikutnya. Hindari memberikan camilan atau minuman secara terus-menerus di antara jadwal makan.
2. Kenalkan Makanan Baru secara Bertahap dan Berulang
Anak mungkin membutuhkan beberapa kali paparan sebelum mau mencoba makanan baru. Moms dapat menyajikan makanan baru dalam porsi kecil bersama makanan yang sudah disukai.
Biarkan si Kecil mengenal makanan melalui melihat, menyentuh, atau mencium aromanya terlebih dahulu. Hindari memaksa karena penerimaan makanan dapat membutuhkan waktu.
3. Berikan Porsi Kecil Tanpa Memaksa Anak Menghabiskannya
Porsi yang terlalu banyak dapat membuat anak merasa kewalahan. Sajikan makanan dalam jumlah kecil dan tambahkan jika Si Kecil masih ingin makan.
Moms dapat mendorong Si Kecil untuk mencoba makanan tanpa memaksanya menghabiskan seluruh porsi. Cara ini membuat waktu makan terasa lebih nyaman dan membantu anak mencoba makanan secara bertahap.
4. Variasikan Rasa, Tekstur, Warna, dan Bentuk Penyajian
Satu bahan makanan dapat disajikan dalam berbagai cara. Misalnya, sayuran dapat dikukus, dibuat sup, atau dipotong dengan bentuk yang sesuai kemampuan makan anak.
Perubahan cara penyajian dapat membantu Moms mengetahui preferensi si Kecil. Pastikan tekstur dan ukuran makanan tetap aman sesuai tahap perkembangan makan anak.
5. Libatkan Anak dalam Memilih, Memasak, dan Menyajikan Makanan
Melibatkan si Kecil dapat meningkatkan ketertarikannya terhadap makanan. Anak dapat membantu memilih bahan sederhana, mencuci sayuran, atau menata makanan sesuai kemampuannya.
Pastikan aktivitas dilakukan dengan pengawasan dan disesuaikan dengan usia anak. Hindari memberikan tugas yang melibatkan benda tajam atau panas.
6. Ciptakan Suasana Makan yang Positif tanpa Distraksi
Usahakan waktu makan berlangsung dalam suasana yang tenang dan menyenangkan. Moms dapat makan bersama si Kecil agar anak memiliki contoh kebiasaan makan yang baik.
Batasi distraksi seperti televisi atau perangkat elektronik selama makan. Dengan begitu, si Kecil dapat lebih fokus mengenali makanan serta tanda lapar dan kenyang.
7. Tetap Sabar dan Konsisten saat Anak Menolak Makanan
Penolakan makanan merupakan bagian dari proses belajar bagi sebagian anak. Hindari langsung menyerah atau menawarkan makanan yang sama sekali berbeda setiap kali si Kecil menolak.
Tetap tawarkan makanan secara berkala dengan cara yang positif. Jika pilihan makanan semakin terbatas atau kondisi pertumbuhan terganggu, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Penyebab Anak Menjadi Picky Eater
Tidak ada satu penyebab yang membuat anak menjadi picky eater. Kebiasaan makan dapat dipengaruhi oleh perkembangan, pengalaman makan, lingkungan, hingga kondisi kesehatan.
Pola makan tidak teratur: Jadwal makan yang tidak konsisten dapat membuat Si Kecil sulit membangun rutinitas makan.
Terlalu banyak camilan atau minuman: Konsumsi camilan atau minuman terlalu dekat dengan waktu makan dapat membuat anak kenyang sebelum makan utama.
Sensitif terhadap karakteristik makanan: Rasa, tekstur, aroma, atau suhu tertentu dapat membuat Si Kecil menolak makanan.
Kurang terbiasa dengan makanan bertekstur: Anak membutuhkan pengalaman bertahap dengan berbagai tekstur makanan sesuai tahap perkembangannya.
Variasi makanan kurang: Menu yang kurang bervariasi dapat membuat pengalaman makan Si Kecil menjadi terbatas dan ia lebih terbiasa dengan makanan tertentu.
Sering dipaksa makan: Tekanan untuk menghabiskan makanan dapat membuat waktu makan terasa tidak nyaman dan memicu penolakan.
Pencernaan sedang tidak nyaman: Sembelit, sakit perut, refluks, atau kondisi lain dapat membuat anak sementara waktu kehilangan selera makan.
Kondisi perkembangan tertentu: Pada sebagian anak, pilihan makanan yang sangat terbatas dapat berkaitan dengan kondisi perkembangan atau gangguan makan tertentu dan perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Dampak Picky Eater bagi Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak
Picky eater tidak selalu menyebabkan masalah kesehatan. Namun, pola makan yang sangat terbatas dalam waktu lama dapat memengaruhi kecukupan asupan dan pertumbuhan anak.
Asupan zat gizi kurang beragam: Anak yang hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu berisiko tidak mendapatkan cukup protein, zat besi, zinc, vitamin, atau mineral tertentu.
Berat badan kurang atau berlebih: Asupan makanan yang terlalu sedikit dapat menghambat kenaikan berat badan, sedangkan pilihan makanan tinggi kalori dapat meningkatkan berat badan berlebih.
Pertumbuhan dapat terganggu: Kekurangan asupan dalam jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Risiko ARFID: Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) berbeda dari picky eater biasa dan dapat menyebabkan pembatasan makanan yang berdampak pada kesehatan atau aktivitas sehari-hari.
Kapan Anak Picky Eater Perlu Dibawa ke Dokter?
Moms sebaiknya membawa si Kecil ke dokter apabila penolakan makanan menyebabkan berat badan tidak bertambah sesuai pola pertumbuhan. Pemeriksaan juga diperlukan apabila anak tampak mengalami kekurangan nutrisi atau dehidrasi.
Segera konsultasikan apabila si Kecil sering tersedak, sulit menelan, muntah berulang, atau mengalami nyeri saat makan. Anak yang hanya mau mengonsumsi jenis makanan sangat terbatas juga dapat memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Dokter dapat membantu menilai apakah kebiasaan makan tersebut masih merupakan fase yang umum. Bila diperlukan, dokter dapat memberikan rujukan kepada ahli gizi atau tenaga kesehatan lainnya.
Baca Juga: Fase Growth Spurt: Kapan & Cara Menghadapi
Dukung Kenyamanan Si Kecil Selama Bereksplorasi dengan MAKUKU Pro Care
Picky eater merupakan kebiasaan makan yang cukup umum pada anak dan dapat dipengaruhi oleh preferensi rasa, tekstur, aroma, maupun pengalaman makan. Dengan mengenali ciri dan penyebabnya, Moms dapat membantu Si Kecil mengenal makanan secara bertahap tanpa memberikan tekanan.
Selain memperhatikan pola makan dan kecukupan nutrisi, kenyamanan Si Kecil selama beraktivitas sehari-hari juga penting untuk mendukung tumbuh kembangnya. Untuk menjaga kulit tetap nyaman saat Si Kecil aktif, Moms dapat memilih MAKUKU Pro Care yang telah teruji secara klinis untuk kulit sensitif, dilengkapi SkinHug Design, Smooth Flex, serta SAP Thin Core Technology yang mengunci cairan secara merata dan membantu mencegah penggumpalan.
FAQ
1. Apakah Picky Eater Sama dengan Anak yang Tidak Nafsu Makan?
Tidak selalu. Picky eater lebih berkaitan dengan kebiasaan memilih atau menolak jenis makanan tertentu, sedangkan nafsu makan yang menurun dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan.
2. Berapa Lama Fase Picky Eater pada Anak Berlangsung?
Lama fase picky eater dapat berbeda pada setiap anak. Pada sebagian anak, kebiasaan memilih makanan dapat berkurang secara bertahap seiring bertambahnya usia dan pengalaman mencoba makanan.
3. Apakah Anak Picky Eater Boleh Diberikan Suplemen?
Suplemen tidak selalu diperlukan untuk semua anak picky eater. Pemberiannya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan dianjurkan oleh dokter atau tenaga kesehatan.
4. Apakah Anak Picky Eater Harus Menghabiskan Makanannya?
Tidak. Memaksa anak menghabiskan makanan dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang penuh tekanan. Moms dapat menyajikan porsi sesuai kebutuhan dan memperhatikan tanda lapar serta kenyang si Kecil.