Beranda | Artikel | Infant | Benjolan di Belakang Telinga Bayi, Ini Penyebab & Cara Mengatasinya

Benjolan di Belakang Telinga Bayi, Ini Penyebab & Cara Mengatasinya

Infant
24/06/2026
Penulis: Bounche
Reviewer: Chief Editor
Benjolan di Belakang Telinga Bayi, Ini Penyebab & Cara Mengatasinya

Benjolan di belakang telinga bayi dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, infeksi, kista epidermoid, hingga cedera. Moms perlu segera memeriksakan si Kecil ke dokter jika benjolan disertai demam, nyeri, kemerahan, atau terus membesar. 

Menemukan benjolan di belakang telinga bayi tentu bisa membuat Moms merasa khawatir. Apalagi jika benjolan muncul tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dan membuat si Kecil menjadi lebih rewel dari biasanya.

Sebenarnya, benjolan di belakang telinga bayi tidak selalu menandakan kondisi yang serius atau berbahaya. Namun, mengetahui penyebab, gejala yang perlu diwaspadai, dan cara penanganannya sangat penting agar si Kecil mendapatkan perawatan yang tepat sejak awal.

Baca Juga: 4 Jenis dan Cara Mengatasi Batuk pada Bayi

Penyebab Benjolan di Belakang Telinga Bayi

Benjolan di belakang telinga bayi dapat muncul karena berbagai kondisi, mulai dari infeksi ringan hingga gangguan kesehatan yang membutuhkan perawatan medis. Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan. 

1. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening

Kelenjar getah bening adalah bagian dari sistem imun yang berfungsi sebagai penyaring kuman dan memproduksi sel pelawan infeksi. Ketika si Kecil mengalami masalah di area sekitar kepala, seperti pilek, flu, radang tenggorokan, atau infeksi telinga, kelenjar di leher dan belakang telinga akan membengkak karena bekerja melawan kuman penyebab sakit tersebut. Pembengkakan ini merupakan tanda alami bahwa tubuh si Kecil sedang aktif mempertahankan diri.

Benjolan yang muncul biasanya terasa lunak, mudah bergeser saat disentuh, serta berukuran kecil hingga sedang. Kabar baiknya, pembengkakan ini akan mengempis dengan sendirinya seiring meredanya infeksi yang menjadi pemicu utama.

2. Bisul

Bisul adalah infeksi pada folikel rambut atau jaringan kulit yang paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Meskipun lebih sering muncul di area tubuh yang lembap atau sering bergesekan, benjolan berisi nanah ini juga dapat berkembang di belakang telinga bayi.

Benjolan akibat bisul biasanya berwarna kemerahan, terasa hangat saat disentuh, dan menimbulkan rasa nyeri. Jika bisul tersebut pecah, cairan atau nanah berwarna putih kekuningan akan keluar dari dalamnya.

3. Mastoiditis

Mastoiditis merupakan infeksi pada tulang mastoid yang terletak di belakang telinga. Kondisi ini umumnya terjadi sebagai komplikasi lanjutan dari infeksi telinga tengah (otitis media) yang tidak ditangani dengan baik hingga tuntas.

Benjolan akibat mastoiditis biasanya disertai pembengkakan, kemerahan, rasa nyeri, demam, serta daun telinga yang tampak terdorong ke depan. Kondisi ini memerlukan penanganan medis darurat karena dapat memicu komplikasi serius seperti gangguan pendengaran permanen hingga infeksi selaput otak (meningitis).

4. Kista Epidermoid

Kista epidermoid adalah benjolan jinak yang terbentuk akibat penumpukan sel kulit mati di bawah permukaan kulit. Kista ini dapat muncul di berbagai bagian tubuh, termasuk area belakang telinga bayi.

Benjolan akibat kista epidermoid ini biasanya berbentuk bulat, tumbuh perlahan, tidak menimbulkan nyeri, dan terasa kenyal saat disentuh. Jika mengalami infeksi, kista dapat menjadi merah, bengkak, dan terasa sakit.

5. Cedera

Benturan ringan saat bermain, terjatuh, atau terkena benda keras dapat menyebabkan munculnya benjolan di belakang telinga bayi. Benjolan luar ini biasanya terjadi akibat pembengkakan jaringan lunak atau penumpukan darah atau memar di bawah kulit.

Umumnya, benjolan akibat cedera ringan akan berangsur mengecil dan membaik dalam beberapa hari. Namun, Moms harus segera membawa si Kecil ke dokter jika ia mengalami muntah, mengantuk berlebihan, kejang, atau perubahan perilaku setelah benturan. Gejala-gejala tersebut wajib diwaspadai karena menjadi indikasi kuat adanya cedera kepala bagian dalam atau gegar otak.

6. Lipoma

Lipoma merupakan benjolan jinak yang terbentuk dari jaringan lemak di bawah kulit. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak meski relatif jarang terjadi.

Benjolan lipoma biasanya terasa lunak, mudah digerakkan saat disentuh, tumbuh perlahan, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Sebagian besar lipoma tidak memerlukan pengobatan kecuali ukurannya membesar atau mengganggu.

Gejala yang Perlu Perhatian Medis

Gejala-gejala ini membantu menentukan apakah benjolan tergolong ringan atau membutuhkan penanganan lebih lanjut. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Pembengkakan Berbentuk Bulat atau Lonjong dengan Ukuran Bervariasi 

Benjolan di belakang telinga bayi umumnya berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran mulai dari sebesar kacang polong hingga kelereng. Namun, jika ukurannya melonjak drastis berturut-turut dalam waktu 2–3 hari atau terasa keras saat disentuh, Moms sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Pembengkakan seperti ini sering kali terjadi akibat pembesaran kelenjar getah bening yang sedang aktif. Kelenjar tersebut berfungsi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh yang bekerja membantu melawan bakteri, virus, dan mikroorganisme penyebab penyakit.

2. Demam atau Suhu Tubuh Meningkat 

Demam yang  muncul setelah ada benjolan di belakang telinga bayi dapat menjadi tanda adanya infeksi aktif dalam tubuh. Suhu tubuh yang meningkat menunjukkan bahwa sistem imun sedang bekerja melawan penyebab infeksi.

Infeksi pada saluran pernapasan atas, infeksi telinga, atau infeksi kulit kepala dapat memicu pembesaran kelenjar getah bening di area belakang telinga. Jika demam berlangsung lebih dari 48 jam, segera periksakan si Kecil ke dokter.

3. Keluarnya Cairan dari Benjolan 

Keluarnya nanah atau darah dari benjolan dapat menunjukkan adanya infeksi kulit parah atau abses. Kondisi ini terjadi ketika bakteri berkembang biak di bawah kulit dan membentuk kantong jaringan yang berisi cairan infeksius.

Pada beberapa kasus, kista bawaan lahir yang mengalami infeksi juga dapat pecah dan mengeluarkan cairan serupa. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera agar infeksi berbahaya tersebut tidak menyebar ke jaringan kulit yang lebih dalam, area wajah dan leher, atau masuk ke aliran darah si Kecil.

4. Kulit di Sekitar Telinga Tampak Merah dan Meradang 

Peradangan yang menyebabkan kulit menjadi merah, hangat, dan bengkak merupakan tanda adanya proses infeksi. Gejala ini sering muncul pada infeksi kulit, abses, atau infeksi kelenjar getah bening.

Jika area kemerahan semakin luas atau si Kecil tampak kesakitan saat area tersebut disentuh, Moms tidak dianjurkan menekan atau memijat benjolan karena dapat memperparah peradangan.

5. Penurunan Nafsu Makan atau Kesulitan Tidur 

Bayi yang mengalami rasa nyeri akibat benjolan di belakang telinga dapat menjadi lebih rewel, sulit tidur, atau menolak makan. Kondisi ini terjadi karena rasa tidak nyaman yang dirasakan si Kecil.

Penurunan asupan nutrisi akibat menolak makan dapat memengaruhi proses pemulihan tubuh. Oleh karena itu, perubahan perilaku bayi perlu menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan oleh Moms.

Cara Mengatasi Benjolan di Belakang Telinga Bayi

Penanganan benjolan di belakang telinga bayi perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Karena itu, penting untuk tidak sembarangan memencet atau mengoleskan obat tanpa anjuran dokter.

1. Kompres Hangat

Kompres hangat dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman dan mengurangi pembengkakan ringan pada benjolan. Tindakan sederhana ini berfungsi memperlancar aliran darah di sekitar benjolan untuk mempercepat proses pemulihan alami tubuh si Kecil.

Moms cukup menggunakan kain bersih yang telah direndam air hangat-hangat kuku, lalu tempelkan perlahan pada area benjolan selama 10–15 menit. Untuk hasil yang optimal, Moms bisa mengulang proses pengompresan ini sebanyak 2–3 kali sehari.

2. Menjaga Kebersihan Area Sekitar Telinga

Area telinga bayi perlu dijaga tetap bersih untuk mencegah risiko infeksi semakin parah. Moms cukup menyeka bagian luar daun telinga dan area belakangnya secara lembut menggunakan kain waslap basah atau kapas yang telah direndam air hangat, serta hindari penggunaan cotton bud ke dalam lubang telinga.

Pembersihan ini idealnya dilakukan cukup 2–3 kali seminggu atau secara berkala saat si Kecil mandi. Kulit bayi yang masih sangat sensitif justru lebih mudah mengalami iritasi dan kemerahan jika terkena gesekan yang terlalu sering atau berlebihan.

3. Pastikan Bayi Cukup Istirahat

Saat tubuh melawan infeksi, bayi membutuhkan istirahat yang cukup agar sistem imun bekerja lebih optimal. Moms bisa mendukungnya dengan memastikan si Kecil mendapatkan tidur berkualitas yang lebih lama dari biasanya di dalam ruangan yang tenang, sejuk, dan bebas gangguan.

Selain itu, jaga si Kecil agar tetap terhidrasi dengan baik melalui pemberian ASI atau susu formula secara lebih sering. Jika si Kecil sudah memasuki usia MPASI, Moms juga bisa memberikan tambahan air putih atau sup hangat untuk membantu mengencerkan lendir dan menurunkan demam.

4. Jangan Memencet Benjolan

Moms sangat disarankan untuk tidak memencet, memijat, atau mencoba mengeluarkan sendiri isi benjolan di belakang telinga si Kecil. Tekanan pada benjolan justru dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam ke jaringan kulit bayi yang masih tipis dan sensitif. Tindakan ini berisiko memicu infeksi baru yang lebih parah serta meninggalkan luka atau bekas trauma pada kulit si Kecil.

Moms sebaiknya memantau perkembangan bentuk dan tekstur benjolan tersebut. Jika benjolan mulai terlihat tidak biasa, terasa makin keras, atau membuat si Kecil rewel, segera konsultasikan kondisi tersebut langsung dengan dokter untuk penanganan yang tepat.

Baca Juga: Moms, Ini 4 Cara Memberikan Oralit untuk Bayi

Kesimpulan

Benjolan di belakang telinga bayi dapat terjadi akibat pembengkakan kelenjar getah bening, bisul, mastoiditis, kista epidermoid, cedera, maupun lipoma. Sebagian besar kasus tidak berbahaya, tetapi Moms perlu waspada apabila benjolan semakin besar, disertai demam, keluar cairan, atau membuat si Kecil sulit makan dan tidur.

Selama masa pemulihan, kenyamanan si Kecil juga penting untuk diperhatikan, termasuk saat tidur dan beraktivitas sehari-hari. Untuk membantu menjaga kenyamanan dan perlindungan kulit si Kecil dengan bahan lembut serta daya serap optimal, Moms bisa menggunakan MAKUKU Comfort Fit. Popok ini dirancang khusus untuk bayi aktif dengan teknologi SAP Thin Core agar kulit tetap kering lebih lama dan si Kecil bebas bergerak nyaman sepanjang hari. Yuk, berikan kenyamanan ekstra untuk si Kecil bersama MAKUKU Comfort Fit agar mereka tetap ceria di setiap aktivitasnya.

FAQ

1. Apakah benjolan di belakang telinga bayi bisa hilang sendiri? 

Ya, beberapa benjolan akibat pembengkakan kelenjar getah bening dapat mengecil dan hilang sendiri setelah infeksi membaik.

2. Apakah benjolan di belakang telinga bayi terasa sakit?

Tidak selalu. Ada benjolan yang tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi ada juga yang terasa nyeri jika disebabkan infeksi.

3. Bolehkah benjolan di belakang telinga bayi dipijat?

Tidak disarankan memijat benjolan tanpa mengetahui penyebabnya karena bisa memperparah kondisi.

4. Apakah tumbuh gigi bisa menyebabkan benjolan di belakang telinga bayi?

BIsa saja, karena tumbuh gigi kadang dapat memicu pembengkakan ringan pada kelenjar getah bening.

5. Kapan benjolan pada bayi harus segera diperiksa dokter?

Segera periksa ke dokter jika benjolan membesar, disertai demam tinggi, kemerahan, atau bayi semakin rewel dan tidak nyaman.

6. Apa keunggulan popok MAKUKU untuk bayi yang aktif?

MAKUKU menggunakan teknologi SAP yang menyerap cairan secara maksimal sehingga permukaan popok tetap kering dan nyaman untuk aktivitas si Kecil.

7. Bagaimana memilih popok MAKUKU yang sesuai dengan usia bayi?

Moms dapat memilih ukuran popok MAKUKU berdasarkan berat badan si Kecil agar popok pas digunakan, tidak terlalu longgar, dan tetap nyaman saat bergerak


Bagikan di media sosial:
Customer Care MAKUKU