Tiger parenting adalah gaya pengasuhan di mana orang tua mengambil kendali penuh atas hampir seluruh aspek kehidupan anak. Setiap keputusan, bahkan yang terlihat sepele, diatur demi memastikan si Kecil mampu mencapai standar dan harapan yang tinggi.
Dalam pola asuh ini, anak memiliki ruang yang sangat terbatas untuk berpendapat atau bernegosiasi karena kepatuhan menjadi hal utama. Lalu, seperti apa sebenarnya ciri-ciri tiger parenting dan dampaknya bagi tumbuh kembang anak? Yuk Moms, simak penjelasannya berikut ini.
Ciri-Ciri Tiger Parenting yang Perlu Moms Kenali
Tiger parenting atau pola asuh harimau adalah gaya pengasuhan yang sangat ketat dan berorientasi pada pencapaian. Orangtua dengan pola ini cenderung mengatur hampir seluruh aspek kehidupan si Kecil demi memastikan anak memenuhi standar dan harapan keluarga.
Dalam praktiknya, si Kecil sering kali tidak memiliki ruang untuk berdiskusi atau menyampaikan pendapat. Semua keputusan utama ditentukan oleh orangtua, dan anak diharapkan untuk patuh tanpa banyak bertanya. Berikut beberapa ciri umum tiger parenting.
1. Orangtua Memegang Kendali Penuh
Pada pola asuh ini, orangtua menjadi pusat kendali dalam kehidupan si Kecil. Mulai dari pilihan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga pergaulan, semuanya ditentukan oleh Moms dan pasangan.
Akibatnya, tercipta jarak yang cukup tegas antara orangtua dan anak. Komunikasi dua arah sulit terjalin karena si Kecil tidak terbiasa mengutarakan pendapatnya. Ketika melakukan kesalahan, anak biasanya langsung mendapatkan hukuman sebagai bentuk disiplin.
2. Aturan yang Terlalu Ketat
Aktivitas yang dianggap mengganggu fokus pembelajaran, seperti bermain di rumah teman, menghadiri pesta ulang tahun, bahkan berpacaran saat remaja, sering kali dibatasi atau dilarang.
Moms yang menerapkan pola asuh ini percaya bahwa pengorbanan di masa kecil akan membuahkan kesuksesan besar di masa depan. Namun, si Kecil bisa merasa kehilangan masa bermain dan pengalaman sosial yang penting bagi perkembangan emosionalnya.
3. Tuntutan yang Sangat Tinggi
Dalam tiger parenting, standar keberhasilan biasanya sangat tinggi. Si Kecil didorong untuk selalu menjadi yang terbaik, mendapatkan nilai sempurna, serta unggul dalam berbagai kompetisi.
Kegagalan kerap dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau mencoreng nama baik keluarga. Akibatnya, anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar atau mengikuti kegiatan penunjang prestasi. Tekanan untuk selalu sempurna ini bisa membuat si Kecil merasa cemas dan takut melakukan kesalahan.
4. Pendekatan Berbasis Rasa Takut
Dalam keluarga dengan pola asuh harimau, orangtua sering dipandang sebagai figur yang tidak boleh dibantah. Si Kecil diharapkan selalu patuh tanpa perlawanan.
Jika anak berani menyampaikan ketidaksetujuan, respons yang muncul bisa berupa ancaman emosional, bentakan, hingga hukuman fisik. Bentuk hukuman dapat berupa menyita barang kesayangan, memarahi dengan keras, bahkan merendahkan anak. Pendekatan berbasis rasa takut ini berisiko menimbulkan luka emosional jangka panjang.
5. Minim Ruang untuk Mandiri
Tiger parenting cenderung membatasi kesempatan si Kecil untuk belajar mandiri. Anak harus selalu meminta persetujuan sebelum mengambil keputusan, bahkan dalam hal-hal kecil.
Moms mungkin bermaksud melindungi dan mengarahkan anak, tetapi tanpa disadari, si Kecil tidak belajar mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab pribadi. Selain itu, orangtua jarang menggali minat, bakat, dan kepribadian unik anak karena fokus utama adalah mengikuti jalur yang sudah ditentukan.
6. Kesuksesan Diukur dari Status
Dalam pandangan tiger parenting, kesuksesan diukur dari pencapaian yang terlihat dan bisa dibanggakan. Sementara itu, kualitas seperti empati, kreativitas, kecerdasan emosional, serta kemampuan bangun relasi sosial sering kali dianggap kurang penting. Padahal, aspek-aspek inilah yang membantu si Kecil menjalani kehidupan yang seimbang dan bahagia.
Perbedaan Tiger Parenting dengan Pola Asuh Lain
Berbeda dengan pola asuh otoritatif yang menekankan keseimbangan antara aturan dan empati, tiger parenting lebih fokus pada hasil akhir dan keberhasilan sebagai tolok ukur utama. Jika dibandingkan dengan helicopter parenting, keduanya sama-sama menunjukkan keterlibatan orangtua yang tinggi.
Namun, perbedaannya terletak pada pendekatan. Tiger parenting cenderung menekan anak untuk mencapai standar tinggi, sedangkan helicopter parenting lebih protektif dan sering mengambil alih masalah si Kecil agar terhindar dari kegagalan.
Bagi Moms, penting memahami bahwa setiap pola asuh memiliki dampak berbeda, tergantung pada kebutuhan dan karakter anak.
Dampak Tiger Parenting terhadap Perkembangan Si Kecil
Pola asuh yang terlalu ketat dan penuh hukuman bisa berdampak pada kesehatan mental si Kecil. Tumbuh dalam tekanan membuat anak lebih rentan mengalami kecemasan, kurang percaya diri, bahkan depresi karena merasa harus selalu memenuhi harapan orangtua tanpa ruang untuk salah.
Si Kecil juga bisa kesulitan mengambil keputusan karena terbiasa diarahkan. Rasa takut mengecewakan orang tua membuatnya cemas terhadap kegagalan. Tekanan yang tinggi dalam jangka panjang berisiko memicu stres berat hingga perilaku menyakiti diri sendiri.
Meski tiger parenting dapat membentuk disiplin dan etos kerja tinggi, Moms tetap perlu menyeimbangkannya dengan kasih sayang. Si Kecil butuh dukungan emosional dan penerimaan tanpa syarat agar tumbuh bukan hanya cerdas, tetapi juga bahagia dan percaya diri.
Moms, di tengah disiplin ala tiger parenting, pastikan si Kecil tetap nyaman berproses setiap hari. Dengan MAKUKU SAP Diapers Comfort Fit, si Kecil bebas bergerak berkat desain pas dan bahan lembutnya, sehingga bisa bereksplorasi dan mengembangkan keterampilan tanpa gangguan.
FAQ
Mengapa Ada Orangtua yang Menerapkan Tiger Parenting?
Banyak orangtua menerapkan tiger parenting berangkat dari niat baik dan rasa khawatir terhadap masa depan si Kecil, meski cara yang digunakan cenderung tegas bahkan keras. Faktor budaya juga sering memengaruhi, terutama dalam lingkungan yang menjunjung tinggi prestasi akademik dan nama baik keluarga.
Selain itu, pengalaman masa lalu turut berperan. Orangtua yang tumbuh dalam pola asuh penuh tekanan dan merasa berhasil karenanya, bisa saja menganggap metode tersebut efektif. Alih-alih mencari pendekatan baru, mereka memilih menerapkan pola serupa kepada anak dengan harapan hasilnya sama atau bahkan lebih baik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan Moms
Bagaimana MAKUKU Comfort Fit Membantu Si Kecil Tetap Aktif Bergerak?
MAKUKU Comfort Fit sebagai popok bayi terbaik dirancang dengan desain fleksibel yang mengikuti bentuk alami tubuh si Kecil. Popok MAKUKU Comfort Fit tetap pas di tempat tanpa menghambat gerakan, sehingga si Kecil bebas merangkak, bermain, dan bereksplorasi dengan nyaman tanpa rasa mengganjal.
Apakah Karet Pinggang dan Paha MAKUKU Comfort Fit Aman dan Tidak Menimbulkan Bekas?
Tentu, Moms. Meski elastis, bagian pinggang dan paha MAKUKU Comfort Fit dibuat dari bahan yang lembut dan ramah di kulit. Desainnya memberikan perlindungan optimal tanpa tekanan berlebih, sehingga membantu mencegah timbulnya bekas merah pada kulit si Kecil.
Kenapa MAKUKU Comfort Fit yang Tipis Tetap Terasa Nyaman dan Pas?
Popok Tipis, MAKUKU Comfort Fit, didesain dengan ukuran presisi, tidak terlalu ketat maupun longgar. Meski tipis, MAKUKU Comfort Fit tetap membantu meminimalkan risiko bocor samping tanpa membuat si Kecil merasa sesak, sehingga nyaman digunakan sepanjang hari.
Referensi:
-
https://hellosehat.com/parenting/tiger-parenting/
-
https://www.theminded.org/post/what-is-tiger-parenting
-
https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-lebih-dalam-pola-asuh-tiger-parenting-1