Beranda | Artikel | Toddler | Kenali Ciri-Ciri Anak Hiperaktif yang Perlu Diperhatikan

Kenali Ciri-Ciri Anak Hiperaktif yang Perlu Diperhatikan

Toddler
18/05/2025
Penulis: Makuku
Reviewer: Chief Editor
Kenali Ciri-Ciri Anak Hiperaktif yang Perlu Diperhatikan

Sebagai orang tua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati. Melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan sehat dan optimal menjadi dambaan. Namun, di tengah perjalanan membesarkan anak, terkadang ada hal-hal yang membuat kita khawatir. Salah satunya adalah ketika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda hiperaktif.

Apa Itu Anak Hiperaktif?

Anak hiperaktif, atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan hiperaktivitas, impulsivitas, dan kesulitan fokus. Anak dengan ADHD umumnya memiliki energi yang berlebihan dan sulit untuk diam dan tenang. Mereka juga mudah terdistraksi dan sering kali bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya.

Penyebab Anak Hiperaktif?

Penyebab pasti dari hiperaktivitas pada anak belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor yang diduga berperan dalam kondisi ini antara lain:

  • Faktor Genetik: Penelitian menunjukkan bahwa ADHD lebih sering terjadi pada anak-anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan ADHD.

  • Faktor Neurologis: Perbedaan struktur dan fungsi otak pada anak hiperaktif juga diduga menjadi salah satu penyebabnya.

  • Faktor Lingkungan: Faktor lingkungan seperti paparan asap rokok saat hamil atau paparan zat berbahaya lainnya saat bayi, juga dapat meningkatkan risiko hiperaktivitas pada anak.

Ciri-Ciri Anak Hiperaktif

Setiap anak memiliki tingkat aktivitas yang berbeda-beda. Anak yang aktif belum tentu hiperaktif. Namun, jika perilaku aktif disertai kesulitan fokus, impulsif, dan mengganggu aktivitas sehari-hari secara terus-menerus, orang tua perlu lebih memperhatikannya. Berikut beberapa ciri anak hiperaktif yang dapat terlihat sejak bayi hingga usia balita.

1. Ciri Anak Hiperaktif saat Bayi

Tanda hiperaktif pada bayi umumnya belum terlihat secara jelas seperti pada anak yang lebih besar. Namun, beberapa perilaku tertentu dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama jika muncul terus-menerus dan berbeda dari kebiasaan bayi seusianya. 

  • Sangat aktif dan banyak bergerak: Bayi tampak terus bergerak, menendang, menggeliat, atau sulit tenang meski sedang digendong.

  • Sulit tenang atau sulit ditenangkan: Bayi cenderung lebih rewel dan membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dibandingkan bayi lain seusianya.

  • Pola tidur tidak teratur: Bayi mungkin sering terbangun, tidur lebih singkat, atau sulit tidur meskipun terlihat lelah.

  • Mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar: Perhatian bayi mudah berpindah ke suara, cahaya, atau gerakan kecil di sekitarnya.

  • Respons berlebihan terhadap rangsangan: Bayi bisa terlihat sangat sensitif terhadap suara keras, keramaian, atau perubahan lingkungan.

2. Ciri Anak Hiperaktif di Usia 2 Tahun

Memasuki usia 2 tahun, tanda hiperaktif biasanya mulai lebih mudah dikenali karena anak sudah lebih aktif bergerak, berinteraksi, dan menunjukkan perilaku sehari-hari yang lebih jelas. Beberapa ciri berikut dapat muncul pada anak hiperaktif. 

  • Sulit diam dan fokus: Anak cenderung sulit duduk tenang dan cepat beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain karena mudah terdistraksi.

  • Berbicara berlebihan: Anak mungkin berbicara terus-menerus, sering memotong pembicaraan, atau sulit mendengarkan instruksi.

  • Bermain lebih kasar dan impulsif: Saat bermain, anak bisa terlihat lebih aktif secara berlebihan, mudah menabrak benda, atau bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.

  • Sulit mengikuti aturan: Anak sering kesulitan mematuhi arahan sederhana, menolak batasan, atau mudah frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.

  • Sulit bergaul dengan teman sebaya: Anak dapat mudah marah, tersinggung, atau mengalami kesulitan saat bermain bersama anak lain.

  • Sering mengganggu orang lain: Anak mungkin sering menyela pembicaraan, mengambil barang milik orang lain, atau membuat suara keras di situasi yang membutuhkan ketenangan.

  • Sulit fokus saat makan atau bermain: Anak mudah meninggalkan aktivitas yang sedang dilakukan karena perhatian cepat berpindah ke hal lain yang menarik perhatiannya.

Cara Mengatasi Anak Hiperaktif di Rumah

Selain penanganan dari dokter, Moms juga bisa melakukan beberapa hal di rumah untuk membantu mengatasi hiperaktif pada Si Kecil:

1. Membuat Peraturan Yang Jelas

Buatlah peraturan yang jelas dan konsisten untuk Si Kecil. Pastikan mereka memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Gunakan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami oleh Si Kecil. Misalnya, daripada mengatakan "Jangan berlari-lari di dalam rumah", Moms bisa mengatakan "Di dalam rumah kita berjalan pelan-pelan ya?".

2. Berikan Pujian dan Konsekuensi yang Tegas

Berikan pujian yang tulus ketika Si Kecil mengikuti peraturan dan berikan konsekuensi yang tegas ketika mereka melanggarnya. Hindari memberikan hukuman fisik atau kata-kata yang kasar. Fokuslah pada menjelaskan mengapa perilaku tersebut tidak diperbolehkan dan menawarkan solusi yang lebih baik.

Sebagai contoh, jika Si Kecil bermain kasar dengan temannya, Moms bisa mengatakan "Wah, mainannya jatuh karena digedor terlalu keras ya? Adik sedih nih mainannya rusak. Lain kali kita pukul pelan-pelan saja ya, supaya mainannya tidak rusak".

3. Ajak Si Kecil Berolahraga

Ajak Si Kecil berolahraga secara teratur. Olahraga dapat membantu mereka untuk membakar energi dan meningkatkan fokus. Pilihlah jenis olahraga yang sesuai dengan usia dan minat Si Kecil. Beberapa contoh olahraga yang baik untuk anak hiperaktif adalah berenang, berlari, bermain bola, atau senam.

4. Batasi Screen Time

Batasi screen time (waktu penggunaan layar) Si Kecil. Paparan televisi, gadget, dan perangkat elektronik lainnya dapat memperburuk gejala hiperaktif. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak di bawah usia 18 bulan tidak diberikan screen time sama sekali, anak usia 2-5 tahun dibatasi maksimal 1 jam per hari, dan anak di atas usia 6 tahun dibatasi screen time sesuai kebutuhan dan dengan pengawasan orang tua.

5. Bermain di Luar Rumah

Ajak Si Kecil bermain di luar rumah secara teratur. Bermain di luar rumah dapat membantu mereka untuk membakar energi dan menghirup udara segar. Selain itu, bermain di luar rumah juga bisa menstimulasi perkembangan motorik dan kognitif Si Kecil.

6. Redam Amarah dan Rasa Kesal

Ajari Si Kecil bagaimana cara untuk meredakan amarah dan rasa kesal. Moms bisa mengajari mereka teknik pernapasan atau cara untuk menenangkan diri dengan menghitung mundur. Latihan relaksasi juga bisa membantu Si Kecil untuk mengelola emosi mereka.

7. Jalin Komunikasi yang Baik

Jalin komunikasi yang baik dengan Si Kecil. Bicarakan tentang perasaan mereka dan dengarkan apa yang mereka inginkan. Hindari berbicara dengan nada memerintah atau membentak. Gunakan nada bicara yang tenang dan tegas.

8. Bekerja Sama dengan Guru

Bekerja sama dengan guru di sekolah Si Kecil. Berikan informasi tentang kondisi hiperaktif Si Kecil kepada gurunya. Bicarakan dengan guru tentang strategi yang dapat dilakukan di sekolah untuk membantu Si Kecil belajar dan berperilaku baik.

Kesimpulan

Anak yang aktif belum tentu mengalami hiperaktif karena setiap anak memiliki karakter dan tingkat energi yang berbeda. Namun, jika perilaku aktif disertai kesulitan fokus, impulsif, dan muncul secara terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih.

Mengenali ciri-ciri anak hiperaktif sejak dini dapat membantu orang tua memberikan pendampingan dan penanganan yang tepat. Selain dukungan di rumah, konsultasi dengan tenaga profesional juga dapat membantu menentukan langkah terbaik untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil.

FAQ

1. Apakah anak yang sangat aktif pasti mengalami hiperaktif atau ADHD?

Tidak, anak yang aktif belum tentu mengalami ADHD karena perilaku aktif pada anak sering kali merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang.

2. Pada usia berapa tanda hiperaktif pada anak mulai terlihat?

Tanda hiperaktif dapat mulai terlihat sejak usia balita, tetapi gejalanya biasanya menjadi lebih jelas saat anak memasuki usia prasekolah atau sekolah.

3. Apakah hiperaktif pada anak bisa disebabkan oleh faktor keturunan?

Ya, faktor genetik diduga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko ADHD pada anak.

4. Apakah terlalu sering bermain gadget dapat menyebabkan anak hiperaktif?

Penggunaan gadget tidak secara langsung menyebabkan hiperaktif, tetapi screen time yang berlebihan dapat memperburuk gejala seperti sulit fokus dan perilaku impulsif.

5. Kapan orang tua perlu membawa anak ke dokter untuk memeriksa hiperaktif?

Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika perilaku hiperaktif terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas belajar, bermain, atau interaksi sosial anak.


Bagikan di media sosial:
Customer Care MAKUKU